Pergeseran Kode di Komunitas Urban Multietnik: Dampak Identitas dan Mobilitas Sosial
##plugins.themes.bootstrap3.article.main##
Abstract
Penelitian ini mengkaji fenomena pergeseran kode dalam komunitas urban multietnik, dengan fokus pada bagaimana identitas etnis dan mobilitas sosial mempengaruhi pola penggunaan bahasa di lingkungan perkotaan. Pergeseran kode, yang merujuk pada perubahan antara dua atau lebih varian bahasa dalam percakapan, sering kali terjadi di komunitas yang memiliki keragaman budaya dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pergeseran kode ini berfungsi sebagai alat untuk membangun identitas sosial dan menavigasi mobilitas sosial dalam konteks masyarakat perkotaan yang heterogen. Melalui analisis percakapan di tiga lokasi urban multietnik di Indonesia, penelitian ini menemukan bahwa pergeseran kode sering terjadi sebagai respons terhadap dinamika sosial, baik dalam interaksi sehari-hari maupun dalam konteks yang lebih formal, seperti di tempat kerja dan ruang publik. Pergeseran ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti status sosial, posisi etnis, serta mobilitas ekonomi individu. Individu dengan status sosial lebih tinggi dan mereka yang memiliki akses lebih besar pada pendidikan formal atau mobilitas sosial lebih cenderung menggunakan bahasa dominan dalam interaksi, sedangkan mereka yang berada di kelas sosial bawah atau dalam posisi marginal lebih sering menggunakan bahasa lokal atau bahasa campuran untuk menegaskan identitas kultural mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pergeseran kode bukan hanya fenomena linguistik, tetapi juga proses yang terkait dengan perubahan sosial. Penggunaan bahasa dalam pergeseran kode mencerminkan negosiasi identitas etnis dan sosial, serta strategi untuk menyesuaikan diri dengan kelompok sosial tertentu atau meningkatkan posisi dalam struktur sosial. Penelitian ini juga memberikan wawasan tentang bagaimana mobilitas sosial mempengaruhi cara individu membentuk identitas bahasa dan bagaimana hal ini memperkuat atau memodifikasi hubungan sosial dalam masyarakat multietnik.
##plugins.themes.bootstrap3.article.details##
[2] Bergman, M., & Kasper, G. (2016). Impoliteness in interaction. John Benjamins Publishing Company.
[3] Chen, S. (2019). Pragmatic competence and its impact on chatbot communication in customer service. Journal of Language and Social Psychology, 38(2), 158–171. https://doi.org/10.1177/0261927X18823055
[4] Culpeper, J., & Haugh, M. (2014). Pragmatics and the English language. Palgrave Macmillan.
[5] Holmes, J. (2013). An introduction to sociolinguistics (4th ed.). Routledge.
[6] Hymes, D. (2015). Foundations in sociolinguistics: An ethnographic approach. University of Pennsylvania Press.
[7] Kádár, D. Z., & Haugh, M. (2013). Understanding politeness. Cambridge University Press.
[8] Leech, G. N. (2014). The pragmatics of politeness. Oxford University Press.
[9] Mertens, D. (2015). Research and evaluation in education and psychology: Integrating diversity with quantitative, qualitative, and mixed methods. Sage.
[10] Nguyen, D. T. (2020). Politeness strategies in digital communication: Pragmatic aspects of chatbot interaction. Journal of Pragmatics, 159, 135–146.
[11] Riggins, S. H. (2014). The language and politics of exclusion: The construction of social identities. SAGE Publications.
[12] Stivers, T., & Hayashi, M. (2010). The interactional management of politeness: Interactional sociolinguistics. Oxford University Press.
[13] Yus, F. (2017). Cyberpragmatics: Internet-mediated communication in context. John Benjamins Publishing Company.
[14] Zhang, Y. (2015). Language and identity in Chinese diaspora communities: A sociolinguistic approach. Journal of Sociolinguistics, 19(1), 37–59.
[15] Zhang, Y., & Zhou, M. (2020). Language and mobility: The role of code-switching in upward mobility in urban China. Sociolinguistic Studies, 14(3), 299-317.