##plugins.themes.bootstrap3.article.main##

Fani Silaban

Abstract

Penelitian ini membahas pergulatan eksistensi manusia dan pencarian makna hidup dalam puisi-puisi karya Chairil Anwar melalui pendekatan eksistensialisme. Chairil Anwar, sebagai tokoh sentral dalam sastra Indonesia modern, menghadirkan gaya kepenyairan yang penuh keberanian, individualitas, dan perlawanan terhadap kemapanan. Melalui analisis terhadap beberapa puisi utamanya—seperti Aku, Karawang-Bekasi, dan Diponegoro—terlihat bahwa Chairil tidak hanya menulis tentang kematian atau penderitaan, melainkan tentang usaha manusia memahami dirinya dan dunia di sekitarnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan analisis tekstual. Tiap puisi ditelaah berdasarkan simbol, diksi, dan makna filosofis yang merepresentasikan gagasan eksistensialisme, seperti kebebasan, kesadaran diri, serta absurditas hidup. Hasil kajian menunjukkan bahwa karya-karya Chairil menggambarkan manusia yang berjuang melampaui batas-batas sosial dan spiritual untuk menemukan eksistensinya secara utuh. Dalam puisinya, hidup bukan sekadar keberadaan, tetapi sebuah perlawanan terhadap kehampaan dan ketakutan akan kefanaan. Dengan demikian, puisi-puisi Chairil Anwar dapat dipandang sebagai bentuk ekspresi eksistensial yang menegaskan posisi manusia sebagai makhluk bebas, sadar, dan berani menghadapi absurditas kehidupan. Pemikiran dan gaya bahasanya menjadikan sastra Indonesia modern tidak hanya indah secara estetis, tetapi juga bernilai filosofis dan universal.

##plugins.themes.bootstrap3.article.details##

References
[1] Leech, G. (2014). The pragmatics of politeness. Oxford: Oxford University Press. (ISBN: 9780195341386)
[2] Kádár, D. Z., & Haugh, M. (2013). Understanding politeness. Cambridge: Cambridge University Press.
[3] Culpeper, J. (2011). Impoliteness: Using language to cause offence. Cambridge: Cambridge University Press.
[4] Drew, P., & Heritage, J. (Eds.). (1992). Talk at work: Interaction in institutional settings. Cambridge: Cambridge University Press. (ISBN: 9780521374897)
[5] Sacks, H., Schegloff, E. A., & Jefferson, G. (1974). A simplest systematics for the organization of turn-taking for conversation. Language, 50(4), 696–735.
[6] Schegloff, E. A. (2007). Sequence organization in interaction: A primer in conversation analysis I. Cambridge: Cambridge University Press. (ISBN: 9780521532792)
[7] Pomerantz, A. (1984). Agreeing and disagreeing with assessments: Some features of preferred/dispreferred turn shapes. In J. M. Atkinson & J. Heritage (Eds.), Structures of social action (pp. 57–101). Cambridge: Cambridge University Press. (ISBN: 9780521318624)
[8] Heritage, J. (2012). Epistemics in action: Action formation and territories of knowledge. Research on Language and Social Interaction, 45(1), 1–29.
[9] Curl, T. S., & Drew, P. (2008). Contingency and action: A comparison of two forms of requesting. Research on Language and Social Interaction, 41(2), 129–153.
[10] Blum-Kulka, S., House, J., & Kasper, G. (Eds.). (1989). Cross-cultural pragmatics: Requests and apologies. Norwood, NJ: Ablex. (ISBN: 9780893914596)
[11] Biber, D., Conrad, S., & Reppen, R. (1998). Corpus linguistics: Investigating language structure and use. Cambridge: Cambridge University Press. (ISBN: 9780521496223)
[12] McEnery, T., & Hardie, A. (2012). Corpus linguistics: Method, theory and practice. Cambridge: Cambridge University Press. (ISBN: 9780521517201)
[13] Heritage, J., & Clayman, S. (2010). Talk in action: Interactions, identities, and institutions. Chichester: Wiley-Blackwell. (ISBN: 9781405197476)
[14] Heritage, J., & Raymond, G. (2005). The terms of agreement: Indexing epistemic authority and subordination in talk-in-interaction. Social Psychology Quarterly, 68(1), 15–38.
[15] Kasper, G., & Rose, K. R. (2002). Pragmatic development in a second language. Oxford: Blackwell. (ISBN: 9780631234303)