Naratif Trauma dan Memori Kolektif: Pembacaan Psikoanalitik pada Novel Pasca-Konflik
##plugins.themes.bootstrap3.article.main##
Abstract
Studi ini mengkaji bagaimana novel pasca-konflik memformulasikan pengalaman luka sosial melalui strategi penceritaan yang menandai trauma individual sekaligus menegosiasikan memori kolektif. Berlandaskan kerangka psikoanalitik trauma (represi, repetition compulsion, dan kerja berduka) yang diperkaya konsep memori sosial, penelitian menerapkan close reading terhadap korpus novel pasca-konflik dengan fokus pada relasi antara teknik naratif—fragmentasi alur, analepsis/prolepsis yang terputus, focalisasi yang berpindah, metafora tubuh dan luka, serta “ruang kosong” (silence, ellipsis)—dan operasi ingatan bersama komunitas korban/penyintas. Prosedur analisis menautkan penanda gejala (mis. intrusi mimetik, mimpi, serangan panik, flashback) dengan bentuk-bentuk pengisahan (testimoni, pengakuan, arsip keluarga) untuk memetakan tiga fungsi naratif: (1) diagnostik, ketika teks memunculkan jejak trauma melalui ketidakteraturan waktu dan bahasa; (2) transitional, saat tokoh/komunitas menegosiasikan ambang antara ingatan privat dan narasi publik; dan (3) rekonsiliatif, tatkala cerita membuka kemungkinan kerja berduka dan etika kesaksian. Temuan menunjukkan bahwa narasi yang menggabungkan ketegangan antara kesunyian (yang tak terkatakan) dan dokumentasi (arsip, catatan, foto) lebih efektif mengonversi trauma menjadi sumber memori kolektif yang produktif—bukan sekadar repetisi kekerasan. Kontribusi studi terletak pada pemaduan indikator gejala psikis dengan perangkat naratologi sehingga jalur dari luka individual menuju formasi memori bersama dapat ditelusuri secara tekstual; implikasinya menyasar praktik kurasi sastra, pendidikan memori, dan kebijakan budaya yang peka pada pemulihan pasca-konflik.
##plugins.themes.bootstrap3.article.details##
[2] Assmann, J. (2011). Cultural memory and early civilization: Writing, remembrance, and political imagination. Cambridge University Press.
[3] Bal, M. (2009). Narratology: Introduction to the theory of narrative (3rd ed.). University of Toronto Press.
[4] Bennett, J. (2005). Empathic vision: Affect, trauma, and contemporary art. Stanford University Press.
[5] Caruth, C. (1996). Unclaimed experience: Trauma, narrative, and history. Johns Hopkins University Press.
[6] Derrida, J. (1998). Archive fever: A Freudian impression (E. Prenowitz, Trans.). University of Chicago Press. (Original work published 1995)
[7] Erll, A. (2011). Memory in culture. Palgrave Macmillan.
[8] Felman, S., & Laub, D. (1992). Testimony: Crises of witnessing in literature, psychoanalysis, and history. Routledge.
[9] Genette, G. (1980). Narrative discourse: An essay in method (J. E. Lewin, Trans.). Cornell University Press.
[10] Halbwachs, M. (1992). On collective memory (L. A. Coser, Ed. & Trans.). University of Chicago Press.
[11] Herman, J. (1992). Trauma and recovery. Basic Books.
[12] Hirsch, M. (2012). The generation of postmemory: Writing and visual culture after the Holocaust. Columbia University Press.
[13] LaCapra, D. (2001). Writing history, writing trauma. Johns Hopkins University Press.
[14] Luckhurst, R. (2008). The trauma question. Routledge.
[15] Ricoeur, P. (2004). Memory, history, forgetting (K. Blamey & D. Pellauer, Trans.). University of Chicago Press.
[16] Rothberg, M. (2009). Multidirectional memory: Remembering the Holocaust in the age of decolonization. Stanford University Press.
[17] Scarry, E. (1985). The body in pain: The making and unmaking of the world. Oxford University Press.
[18] Sontag, S. (2003). Regarding the pain of others. Farrar, Straus and Giroux.
[19] Stoler, A. L. (2009). Along the archival grain: Epistemic anxieties and colonial common sense. Princeton University Press.
[20] Taylor, D. (2003). The archive and the repertoire: Performing cultural memory in the Americas. Duke University Press.